Senin, 07 Maret 2011

Cinta Ini Tak Salah

Bagaimana bisa terus bersama..
Jika hanya aku yang punya cinta..
Bagaimana bisa aku bicara asa..
Jika kau tak punya harap yang sama..
Bagaimana kau bisa mengerti aku..
Jika dihatimu namaku pun tak ada..

Maaf buatmu gundah..
Maaf buatmu resah juga gelisah..
Tapi sampai kapanpun cinta ini tak salah..
Takkan pernah salah walau jika harus kau bagi cinta ini dengannya..

=Ve=

Selasa, 01 Maret 2011

Tersenyumlah Kampung Halamanku

By : Ve / SomePlace, 30092010

Setahun sudah berlalu
Tapi tak jua mampu hanyutkan pilu
Walau langit tlah kembali biru
Namun dukamu masih menyelimuti bak awan kelabu
Bangkitlah wahai kampung halamanku
Bangunlah segera dari mimpi burukmu
Kembalilah tersenyum,,
Karena kurindu menjumpa rupamu nan elok dan indah seerti dulu . . .

(Mengenang 1th gempa Sumbar – 30092009)

Rabu, 07 April 2010

“Aku Bukan Temanmu Lagi…”

Oleh Abdullah Alawi

“Aku bukan temanmu lagi,” katanya polos seperti tanpa beban. Gigi-gigi seri atasnya yang hitam sekilas tampak. Tapi lenyap saat bibir mungilnya terkatup, seolah layar menutup pentas drama. Sekarang, pipinya, hidungnya, bola matanya, bulu alisnya, dahinya, rambutnya, sekujur tubuhnya serentak menyatakan hal serupa, “Aku bukan temanmu lagi.”

Aku kaget mendengar kalimatnya itu, seperti baru saja mendengar vonis kematianku sendiri. Aku tak habis pikir mengapa demikian. Apa salahku? Padahal beberapa detik yang lalu aku masih ketawa-ketiwi dengannya, bernyanyi, dan bercerita. Ah, betapa cepat dunia ini berbalik.

Beberapa saat aku mematung, tapi pertanyaan beronggok-onggok memenuhi tempurung kepalaku. Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Beberapa saat aku tak bisa berkata apa-apa. Sementara dia tak berniat mencabut kalimat-kalimatnya. Malah seperti ada kepuasan melihat korbannya tak berdaya.
Seketika aku ingat lirik The Panas Dalam yang berjudul "Timur":

Jangan takut preman
Preman juga makan nasi
Jangan takut polisi
Kalau tidur kita gilas
Jangan takut tentara
Tentara juga punya isteri
Jangan takut Mak Lampir
Mak lamapir itu Parida Pasa
Jangan takut tetangga
Rumah kita pakai pagar

Takutlah jika kau dibenci
Dijauhi teman-teman
Sepi hidup sendiri

Jangan takut pada ibu
Ibu uangnya dari ayah
Jangan takut neraka
Banyak ibadah masuk surga

Takutlah jika kau dibenci
Dijauhi teman-teman
Sepi hidup
Sendiri

Takutlah jika kau dibenci
Dijauhi teman-teman
Sepi hidup
Sendiri

Jangan takut pada siapa pun. Bahkan neraka sekali pun. Tapi takutlah jika dijauhi teman-teman. Sepi hidup sendiri. Betul juga peribahasa seribu teman masih kurang, sementara satu musuh lebih dari cukup.

Dan sekarang di hadapanku, tanpa tedeng aling-aling, ada yang mendeklarasikan bukan temannya lagi. Ini persoalan serius! Aku harus segera membicarakannya.

“Rika, kenapa?” tanyaku.

“Aku bukan temanmu lagi!” pekikinya sambil membalikan badan, kemudian berlari. Aku hanya menatap kepergiannya. Rambutnya yang panjang berhambur ke pundaknya saat angin senja bertiup kencang.

“Ah, Rika, Rika, apa makna pertemanan menurutmu?” gumamuku dalam hati sambil menatap kepergian bocah berusia 4 tahun itu yang langsung menyatu dengan teman-temannya. Dari kejauhan tampak lesung pipit tercipta di pipinya.

Peladen, Maret 2010